Academical and Professional Data

- Master Candidate in School of Civil, Environment, and Mining Engineering, The University of Adelaide
- Junior Lecturer in Department of Civil Engineering, University of Hasanuddin Makassar Indonesia

Association:
- American Society of Civil Engineer (ASCE)
- Geo-Institute
- Institute of Engineers Australia

Research Interest:
- Soil variability
- Probabilistic analysis in geotechnical engineering
- seismic risk analysis and earthquake
- geoenvironment
- site investigations
- pile foundation

Teaching (in University of Hasanuddin):
- Calculus (I)
- Advanced Engineering Mathematic (II)
- Material Mechanic (II)

Tutorial (The University of Adelaide):
- Geotechnical Engineering Design III

Laboratory assistant (The University of Adelaide):
- Geotechnical Practicum II
- Geotecnical Practicum III

Work Experiences:

Karebosi Shopping Centre (MTC Karebosi)
Location : Makassar, South of Sulawesi, Indonesia
From 2001 to 2002
Position : Project Inspector
Company: PT. Arkonin Jakarta
- supervising the constructing of retaining walls
- supervising pumping tests and dewatering
- supervising excavating for 3 levels of basements
- supervising piling for foundations

Community Recovery Program (CRP) in North Maluku UNDP-IMC
Location : Tobelo and Galela, North Maluku, IndonesiaFrom March to Oct 2002
Position : Engineering Officer
Company : IMC Indonesia
- Assessing several public health buildings
- Planning and designing the rehabilitation programs for the buildings
- Supervising the process of rehabilitation

Project of Gedung Keuangan Negara--GKN (State Finance Building)
Location : Manado, North of Sulawesi, Indonesia
From 2003 to 2004
Position : Field Structural and geotechnical Engineer
Company : PT. Yodya Karya (persero)
- supervising bored piling
- supervising the additional SPT and boring of site investigation
- supervising the constructing of the 6 levels of structure
- controlling of the quality of the concretes

Design of Bridges construction Package III
Location : Several Regencies in South of Sulawesi, Indonesia
From November to December 2003
Position : Structure Engineer
- designing of the foundations of the bridges
- analysing the cost of the bridges

Project of the Tatura Mall
Location : Palu, Central of Sulawesi, Indonesia
From January 2005 to June 2005
Position : Field Structural Engineer
Company : PT. Yodya Karya (persero)
- supervising the constructing of raft foundation
- supervising the first level of structure
- supervising the excavation for semi basement construction
- controlling the quality of concretes

Project of the Tower of Provincial Representatives (DPRD)
Location : Makassar, South of Sulawesi, Indonesia
From June 2005 to November 2005
Position : Field Structural Engineer
Company : PT. Yodya Karya (persero)
- supervising the work of driven piling
- supervising the 11 levels of structure
- controlling the quality of concretes

International Conferences:
- 7th Yound Geotechnical Professionals Conference, Adelaide, 2006
- 10th Australia New Zealand Conference on Geomechanic, Brisbane, 2007
- Seminar of Deep Foundations, Excavations and Retaining Walls in South Australia, Adelaide, 2007

Friday, December 28, 2007

Tawakkal dari Perspektif Engineer

28 Desember 2007




Peradaban manusia dalam sejarahnya telah berupaya melakukan berbagai cara mengamati fenomena alam dan sekaligus untuk menaklukan alam. Dimulai dari 6000 tahun yang lalu, manusia di Babilonia dan Mesir mulai mengamati berbagai peristiwa alam yang unik dengan memakai matematika sebagai numerical method. Manusia di Yunani juga tidak tinggal diam. Mereka tertarik dengan natural philosophi untuk mengamati alam. Yang laris manis ketika itu adalah ilmu-ilmu mengenai fenomena alam di angkasa (astronomi), dunia hewan (zoology) dan juga mengenai manusia itu sendiri (anatomi). Masih belum bisa menaklukan alam, 2500 tahun yang lalu, matematikawan di India kemudian memperkenalkan angka nol dan sistem desimal yang memudahkan untuk menghitung. Semetara itu di Cina, manusia menemukan kompas. Sebuah starting point untuk para eksplorer ke penjuru dunia yang gelap yang ketika itu samudera Atlantik yang dihuni banyak mistik. Eksplorasi mengakibatkan pengetahuan geografi semakin meluas dan makin akurat. Perkembangan Islam di abad 7- 11 juga membawa "angin segar" bagi usaha penaklukan alam. Manusia sudah mulai memakai ilmu kimia untuk meramu bahan alam, membuat lensa optik yang nantinya melahirkan teleskop mengamati angkasa, dan mengembangkan hampir semua sains modern termasuk matematika, fisika, kedokteran dan sosiologi. Penaklukan alam kemudian berlanjut di Eropa. Dari warisan dunia Islam pasca penaklukan Andalusia, dan perang Salib, Eropa kemudian menjadi barometer perkembangan sains modern. Revolusi sains diawali oleh Isaac Newton melalui Philosophiae Naturalis Principia Mathematica in 1687 yang kemudian melahirkan revolusi industri, dan ditutup oleh Albert Einstein pada 1900-an bersama Max Planc dan Niels Bohr mengembangkan fisika kuantum yang nantinya menginspirasi revolusi informasi dan telekomunikasi. Usaha manusia belum pernah berhenti sekalipun di abad ke-20, melalui mereka menemukan listrik, mobil, pesawat udara, rekayasa genetik, energi nuklir, dan internet.



Namun manusia tidak akan pernah menaklukan alam. Seberapa jauh lompatan peradaban melalui teori, eksperimen, dan penemuan, alam raya ini masih saja asing dari jangkauan manusia. Masih banyak fenomena alam yang belum diobservasi secara detail dan mendalam. Sebagai contoh, fenomena alam berupa gempa. Manusia hanya mampu mengobservasi daerah-daerah potensi gempa dari data seismik, dan pengukuran geologi menggunakan GPS akan sesar aktif, yang terus bergeser setiap tahun . Namun kapan gempa terjadi manusia belum bisa memastikan.



Pada dasarnya alam raya ini menyimpan banyak ketidakpastian. Hal ini dikarenakan observasi dan data sangat terbatas. Manusia mengembangkan teori untuk mengestimasi, namun masih banyak mengandung limitasi pemberlakuannya. Dalam limitasi inilah, konsep tawakkal secara sadar atau tidak sadar diterapkan.



Dalam konsep engineering desain, kesempurnaan sebuah desain sebenarnya tergantung seberapa lengkap data yang diperoleh baik melalui eksplorasi dan uji laboratorium. Dari poin ini, engineer bisa membuat model, dan secara optimistik mendesain konstruksi yang diinginkan. Hanya saja, desain tersebut tidak akan pernah sempurna. Selain data yang digunakan tidaklah lengkap jika dibandingkan dengan fakta nyata di lapangan, juga eksperimen di laboratorium memiliki potensi kesalahan baik dari alat maupun metodenya. Olehnya itu, engineer harus selalu bisa membuat estimasi. Kehandalan estimasi ini sangat ditentukan oleh eksperiens. Semakin banyak pengalaman, semakin matang estimasi yang dibuat.



Namun ini belum cukup, estimasi harus selalu dilengkap dengan "Faktor keamanan (safety factor)". Engineer menyerahkan estimasi desain-nya kepada Tuhan berupa "safety factor". Disadari, alam raya ini memiliki hal-hal yang tidak dijangkau oleh estimasi sang engineer. Safety factor merupakan aplikasi dari tawakkal kepada Allah SWT. Mungkin saja estimasi yang dibuat sudah dapat diandalkan karena data-data perhitungan dan analisanya sudah sedemikian lengkap. Namun fenomena alam menyimpan banyak ketidakpastian, dan engineer bersiap untuk dengan bertawakkal, dengan memakai safety factor.



Dari asal katanya, tawakkal bisa berarti mewakilkan, atau menyerahkan urusan kepada yang mewakilkan. Seberapa besar masalah yang diserahkan tergantung oleh seberapa besar usaha yang dilakukan. Pada dasarnya, seluruh urusan di kehidupan ini adalah tanggung jawab manusia sebagai khalifah. Artinya manusia dibekali oleh Allah SWT seluruh potensi ruh dan akal untuk bisa mengendalikan alam raya ini. Selama masih bisa dilakukan oleh manusia, maka itulah usaha yang harus dilakukan. Kuantitas dan kualitas dari usaha akan dapat menurunkan potensi ketidakpastian hasil, sebagaimana diilustrasikan dari gambar di bawah. Ketidakpastian itu akan turun seiring bertambahnya usaha. Derajat optimistik juga akan bertambah seiring dengan peningkatan usaha. Namun kepastian hasil tidak akan dapat mutlak diperoleh. Di sinilah tawakkal dilakukan. Diserahkan kepada sang pemilik fenomena alam, Allah SWT. Dalam konsep ini, engineer melakukan segala upaya termasuk investigasi, eksplorasi, analisis data, pengujian, pemodelan, dan pengetesan model adalah merupakan bentuk usaha. Derajat kepercayaan akan kehandalan desain akan bertambah seiring dengan data dan pengujian yang dilakukan. Namun, engineer tidak akan percaya 100% dengan apa yang didapatkan. Safety factor kemudian diambil. Semuanya sudah dilakukan, dan engineerpun bertawakkal. Besaran safety factor tergantung dengan usaha dan degree of confidence. Semakin optimistik sebuah desain, maka safety factor yang dikenakan tidaklah tinggi.

Wallahu a'lam bisshawab

Acknoloedgement buat Pak Tamam, Mas Khamdi, Mas Zaini, dan Pak Rizal atas diskusi mengenai Tawakkal pada 22 Desember 2007.

Wednesday, December 19, 2007

Jembatan di Brisbane: Elegan dan Artistik
























































Struktur jembatan tidak hanya bernilai dari sisi transportasi, namun juga bisa menjadi landmark dari sebuah kota.



Kota Brisbane yang dibelah oleh Brisbane River memiliki sejumlah jembatan dengan arsitektur yang berbeda-beda. Ciri khas jembatan memiliki fungsi monumental yang mempercantik landskap kota. Uniknya, ada jembatan yang hanya diperuntukkan hanya untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda, seperti jembatan yang menghubungkan Griffith Univ dan QUT.


Adapun beberapa jembatan yang

- Captain Cook Bridge

- Victoria Bridge

- Centenary Bridge

- Goodwill Bridge

- Gateway Bridge

- William Jolly Breidge

- Merivale Bridge




*Foto-foto yang dimuat merupakan dokumen pribadi.












































































































Monday, December 17, 2007

OPSPEK Seperti Bertamasya

Seiring perubahan yang ingin digulirkan di Unhas mengenai penghapusan POZMA dan segala protes dari mahasiswa, rasanya sangat perlu kita meluaskan pandangan sejenak
untuk melihat keluar dan sedikit membandingkan (walaupun kita tidak bisa meniru seratus persen-- karena ada perbedaan) proses orientasi mahasiswa baru yang dilaksanakan di negeri lain.


Dalam bulan July, indigelar Orientation Program buat mahasiswa baru di Universitas Adelaide.
Alhamdulillah, tahun ini, saya terpilih sebagai salah satu peer mentor (mungkin
seperti panitia opspek). Ini saya syukuri karena dulu pengen sekali jadi panitia POZMA tapi nama saya dicoret karena ga pernah ikut rapat2 waktu itu. Pernah juga masuk steering committee POZMA tapi dibubarkan senat karena "gerombolan senior dari Jasbog"protes ama pembaharuan yang kita lakukan. Kecewa sih, tapi bersyukur karena tangan saya tak perlu kotor dengan apa yang namanya POZMA.

Di University of Adelaide, proses orientasi mahasiswa baru dilakukan sama seperti "bertamasya" namun serius karena bermanfaat. Tidak ada ketakutan malah mahasiswa diberi kesempatan untuk rilex, ngopi, dengering musik, dan ngobrol2.

Di kampus, digelar Welcome Center. Mahasiswa baru datang untuk mendaftar dan mendapatkan paket yang berisi booklet, informasi2 yang berkaitan dengan kuliah dan kemahasiswaan, termasuk kartu mahasiswa, username dan password untuk komputer, dan asuransi kesehatan. Di sini, mahasiswa baru (maba) juga melihat2 workshop dan kegiatan2 yang mereka bisa ikuti. Semuanya tidak wajib kecuali arrival briefing wajib. Mereka dilayani oleh para peer mentor (semuanya mahasiswa), dan staf dari rektorat.

Workshop itu ada banyak macam seperti Bagaimana proses pendaftaran, Motivasi Goal Setting dan Manajemen Waktu, pengenalan terhadap On-Line Service, Tour perpustakaan, Tour Campus, Lecture Theatre Tour, Pengenalan mengenai lingkungan universitas, menulis effektif, presentasi seminar dan diskusi kelas, dan bagaimana mengatur uang. workshop dilakukan di beberapa kelas dengan jumlah peserta maksimal 25 orang. jadi ada banyak kelas dan dilakukan dalam 2 minggu selama orientasi.

Selain workshop yang sedikit serius, ada juga sekedar having fun. Seperti menonton film "10 Canoes", Pizza and Games, Welcome BBQ, Wisata ke Victor Harbour, menonton Australian Rules Football, dan jalan2 ke Marion Shopping Centre.

Semua workshop bisa diikuti tanpa biaya apapun (mungkin karena udah dicover oleh "uang masuk") kecuali untuk wisata ke Victor Harbour dengan biaya sangat murah $5.

Semua berjalan tanpa ada ketakutan, teriakan, kontak fisik. Mungkin karena pihak universitas melihat maba sebagai aset membangun peradaban.

Semoga kita bisa memanfaatkan contoh mereka.

Membonceng itu apa di depan atau di belakang?

Persoalan bahasa terkadang membuat kita bingung. Ini masih dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun persepsi kadang berbeda. Contohnya saja, kata membonceng. Ada orang menyangka bahwa kalau membonceng ketika bersepeda motor, itu berarti di depan memegang stir, dan yang dibonceng itu di belakang. Namun ada juga yang berasumsi bahwa yang membonceng itu berada di belakang, artinya mengikuti yang ada di depan.
Ini sebenarnya persoalan sepele, namun pernah tak pernah terluapakan walaupun sudah berlalu 11 tahun.
Tahun 1996, kami setelah lulusan PPD-B di Fort Rotterdam akan menjadi panitia pelaksana PPD B untuk angkatan berikutnya (semacam perkaderan mahasiswa selevel intermediat) untuk perkaderan Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Unhas. Bertempat di Benteng Somba Opu, yang cukup jauh dari kampus, mungkin sekitar 20 km dari kampus. Pelaksanaan kepanitiaan berjalan baik dan kami-kami bersemangat menjalankannya. Dengan lokasi yang cukup jauh, maka alat transportasi untuk lebih bisa mobile yang cocok adalah sepeda motor. Beruntunglah, beberapa teman ada yang memiliki motor, termasuk beberapa senior yang menjadi steering committee. Salah satunya dari steering committeeTeknik Elektro (saya lupa namanya). Walaupun motor tua, tapi tetap tokcer untuk dipakai membeli keperluaan logistik training. Apalagi bagi beberapa teman yang baru bisa mengendarai sepeda motor, ini tentu bersemangat dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Pada hari ketiga perkaderan, di suatu sore, saya dan seorang teman yang juga panitia dari Teknik Mesin (namanya masih saya ingat) akan membeli gula pasir. Maklumlah, kebutuhan gula pasir meningkat seiring intensitas minum kopi bagi para peserta, panitia, dan juga pengurus senat yang datang sangat tinggi. Apalagi materi diskusi berlangsung hingga jam 2 - 3 pagi. Maka dengan mengendarai motor tua, kami pun pergi dengan semangatnya. Sehabis mendapatkan gula sekilo, kami pun berencana balik ke lokasi. Namun karena masih sore, kami pun pergi ke tanjung dekat muara Sungai Jeneberang. Sekalian jalan-jalan. Menjelang maghrib, kami balik ke lokasi, motor saya kebut dan mendekati tempat parkir, tiba-tiba "gas nya melengket" dan motor tidak dapat dikendalikan. Maka motor itu pun seakan-akan melompat dan meluncur ke bawah rumah (baruga itu semacam rumah adat/rumah panggung), dan akhirnya terjadilah apa yang tidak pernah dibayangkan. Motor itu pun menabrak salah satu tiang rumah. Lampu depan hancur, saya yang memegang kemudi mengalami lecet. Sang teman yang dibelakang saya juga terjatuh. Untungnya tidak terlalu parah.
Peserta, panitia, dan beberapa steering datang melihat apa yang tertabrak. Materi yang ketika sedang dibahas oleh pelatihan, terhenti sebentar.
Sang pemilik motor juga sempat shock melihat apa yang terjadi. semuanya telah terjadi.
Beberapa kawan bertanya siapakah yang membonceng dan siapa yang dibonceng. Di sinilah penafsiran yang berbeda. Saya yang memang memegang stir tentu menjawab saya yang membonceng. Namun teman yang ikut berada dibelakang, juga menjawab dialah yang membonceng. Semua sama ngototnya. Untungnya si pemilik motor tidaklah mempermasalahkan kejadian ini dan motornya dapat diperbaiki. Saya masih merasa berhutang budi kepadanya.
Kembali kepada istilah membonceng dan dibonceng, yang manakah kira2 yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia. Kebetulan karena saya orang Makassar dan biasa mendengar istilah membonceng, tentu beranggapan yang membonceng itu adalah yang memegang stir. Namun kawan tersebut yang berasal dari Jawa, istilah membonceng itu bagi mereka yang mengikut.
Itulah sedikit cerita masa lalu yang selalu "tak terlupakan-- indah dan seru" ketika masih aktif di kampus Tamalanrea.

Tanda-tanda Mahasiswa Indo di Aussie

Dari cerita2 teman di Uni, beberapa hal untuk menandai bahwa orang tersebut adalah mahasiswa Indonesia (soalnya kita bisa salah jangan2 orang Malay, Filipino,Burma, Vietnam,...atau Cina, solanya pernah sy dikirain orang cina, Malay, Filipino dan juga Burma):

1. Memakai tas backpack (tas ransel) merek "EAGER".
Teman saya langsung nyapa "hei apa kabar".
Lho koq tau sy ini orang indo?
Soalnya tas nya merek "EAGER"
hanya di Indo merek "EAGER" ngetop

2. Nyengir ketika ketemu apa orang (bahkan yang tidak dikenal)
Suatu ketika di sebuah Conference di Hotel Stanford Adelaide
Seorang mahasiswa langsung menyapa "dari indo ya?"
kog bisa tau?
Iya , situkan selalu nyengir ketika ketemu di lift
(memang orang Indo peramah dan selalu tersenyum, biar susah
atau stress denger bencana, kecelakaan pesawat, KA, dll)

3. Kalo ke Swalayan, selalu saja ada Indomie di keranjangnya
Indomie adalah made in Indo yang ada di semua swalayan, Coles,
Woolsworth, dll.
Indomie, biar instant, dan mengandung sedikit B3, yang penting praktis
dan mengenyangkan.

4. Pasti tau "Tuan Phat"
Dosa lo, kalo mahasiswa Indo di Adelaide ga tau Tuan Phat
Biar dpt "high distinction"
, kalo ga tau Tuan Phat, diragukan ke-adelaide-annya.
Kalo rindu Indonesia, ga usah telepon ke kampung, ke Tuan Phat aja jum'at ama Sabtu, pasti merasa di kampung sendiri.

Type-type supervisor

ini ada sedikit cerita dari teman2 sesama postgraduate student

sudah diketahui bersama bahwa
dalam melakukan riset kita dibimbing oleh supervisor
karakter supervisor2 ini yang kebanyakan professor (ada juga doktor) ber-macam2.

-- friendly and tough
supervisor macam ini sangat ramah, dan kerap menanyakan kabar keluarga di sela2 meeting, dan banyak menawarkan bantuan termasuk tawaran kerja menjadi tutor di s-1 atau demonstrator di lab. Termasuk traktir makan siang walaupun cuma di awal2 aja.

mereka agak ketat kalo sudah memasuki diskusi hasil riset atau methodology. Mereka juga agak detail dalam berbagai macam, misalnya kasi komen mengenai presentasi, proposal, visual di slide, report. baiknya mereka memberi semangat dan nasehat menjadi orang yang sangat teliti. Mungkin agar hasil risetnya well done!!!, excellent!!!

Kalo merubah jadwal asistensi, mereka pasti email duluan, dan nanyain alternativenya. Hanya saja, kalo datang waktu libur, mereka ga kasi pengumuman, udah ilang duluan ampe sebulan ga ada kabar. Waktu begitu mahal, cuma mereka kasi kelonggaran kalo mau tambahan meeting, email dululah...katanya.

Asistensi selalu dan selalu di kampus (ga mungkin di rumah lah..wong alamat rumahnya ga diberikan ...privasi), di ruangan mereka, yang bejibun buku2 dan paper, lengkap dengan whiteboard. Biasanya ada biskuit, dan mereka nawarin ngopi sambil diskusi.... Kalo mau pinjam buku, bilang aja, pasti dikasi..

--- Super busy
supervisor macam begini kalo beliau ini merangkap macam seperti pembantu dekan, ketua associasi profesi, praktek di lab, lecturer, konsultan, reviewer jurnal. Biasanya, schedule meeting mingguan, atau dua mingguan. Kalo mau asistensi, lihat dulu situasi, apa mereka santai atau sibuk. Kalo sibuk, hendaknya diskusi harus efektif..jangan panjang2. To the point.. Meeting biasanya sering berubah jadwal, paling diemail duluan bahwa "no meeting today". tapi selalu ada alternative. Supervisor macam begini sibuk juga dengan seminar, jurnal dan proyek2. Akan tetapi meeting, selalu diusahakan untuk ngukur progress...
Enaknya, mereka karena namanya sudah ada di jurnal2 internasional dan buku2, maka jaringannya pasti kuat. Mereka kerap nawarin copnference atau jurnal di berbagai tempat untuk diikuti... (Ph.D wajib buat minimal 3 paper, master 2 paper).


---- ngecek ke process segala
ada juga, supervisor seperti ini sangat care ampe datang ke office ngecek atau ngeliat hasil. Seperti teman dari Cina, kebetulan supervisornya orang cina, maka beliau sering ke office ngeliat process. Dan berbicara pake bahasa mandarin pula. Mungkin karena orang Asia ya... selalu ngecek ampe liat kehadiran segala.. tapi positifnya, progressnya cepat dan mungkin dia bisa upgrade ke Ph.D.

--- kesetaraan dan kebersamaan
banyak supervisor yang sibuk, tapi acara ngumpul2 ngopi/ngeteh bareng di Jum'at pagi tetap hadir (meski ga 100% hadir semua) bareng ama riset postgrad students. Ngobrol macam2 topik. Pernah, sewaktu melbourne cup, kita2 ikut hadir untuk nonton bareng sambil makan, dan mereka bertaruh ngeliatin kuda2 mana yang menang... taruhannya $5, dan $2 (ini judi ya...). Di sini semuanya pada ngumpul, remasuk staf IT, teknisi lab, admin.

that;s all. Mungkin ada sedikit subyektif. Anyway, karakter supervisor di sini ada positif dan ada juga negatif. Ambil yang positif aja.


Gimana dengan realita asistensi di kampus kita...?
saya pribadi masih merasa "ga enak" dengan asistensi dulu macam waktu S-1.
Seperti Opspek aja. he..he...he...

Budaya Klenik dan George Bush


December 16, 2007

Berita di bawah ini menunjukkan betapa takhyul, klenik dan magic2 masih exist bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat.

Andai Bush mengetahui hal ini, dia bisa mengirim CIA, atau Green Berets untuk melumpuhkan ki Gendeng.

Orang Australia bisa ketawa membaca berita ini. Kecuali, seorang instructur IALF di Bali yang mulai percaya hantu ketika menetap di Indonesia 10 tahun lalu.

Kita teringat berita meletusnya gunung merapi yang dikaitkan dengan takhyul. Sampai2 di TV yang disorot adalah seorang paranormal atau penjaga gunung merapi. Bahkan seorang tokoh agama datang menjenguk paranormal ini.Walhasil, yang terjadi gempa bumi disusul meletusnya Merapi dan bencana lumpur Lapindo.

Di Tv, Program Dateline SBS sempat menyoroti kepercayaan2 di sekitar meletusnya Gunung Merapi dengan mewawancarai beberapa tokoh paranormal. Menurutnya fenomena Merapi terjadi ketika tradisi2 ritual untuk menghormati leluhur tidak dilaksanakan Sultan Jogja. Bahkan ada keyakinan, kalau Merapi meletus maka ada pergantian kepemimpinan di tingkat nasional, seperti kasus lengsernya Suharto.

SBS kemudian mewawancarai seorang professor di bidang geologi dari Universitas Adelaide yang datang melakukan survai. Dia menjelaskan dari sisi teori tektonik-plat dimana perbenturan plat australia dengan Asia sangat2 aktif dimulai dari Tsunami Aceh hingga Gempa Jogjakarta dan Tsunami Pangandaran.

Ada juga berita mengenai beberapa ekor kambing yang dikorbankan di tengah lumpur lapindo untuk meredakan amuk dari seorang anak Nyi Roro Kidul. Padahal, kasus lumpur lapindo memiliki banyak teori geologi seperti Mud Volcano dari arah Madura (meniru sebuah kasus yang sama di Eropa), atau kegagalan eksplorasi akibat pergeseran batuan dasar akibat gempa.

Fenomena alam memang harus disikapi secara sains. Seorang dosen pernah berkata bencana alam seperti tanah longsor, gunung meletus, dan tsunami, akan melahirkan doktor-doktor baru. Fenomena massive landslide di daerah hulu Sungai Jeneberang dan mengancam kelansungan Bendungan Bili2 mengundang sejumlah ilmuwan dari Jepang untuk terbang langsung untuk meneliti bencana alam ini. Teman dari Universitas Teknologi Petronas Malaysia mengatakan bahwa semenjak Tsunami Aceh, universitas-unversitas di Malaysia sangat gencar melakukan studi dan penelitian earthquake. Di Adelaide Uni misalanya, penelitian gempa bumi dan ketahanan bangunan dengan bahan batu-bata menjadi unggulan untuk riset dengan bimbingan professor yang juga reviewer ASCE Journal (American Society of Civil Engineers). Padahal Australia adalah benua yang paling stabil dari gempa bumi.

kembali ke kasus gendeng pamungkas dan George Bush. Apa Bush bisa disantet? atau mendingan Ki Gendeng ikut American Funniest Video aja ya.

Seorang teman Australia yang beristri orang Indonesia heran karena acara favorit di TV kita adalah acara hantu2 secara live (langsung)..(takhyul nasional)..

juga..acara gosip2 artis (gibah nasional)…astaghfirullah…

Wallahu a’lam Bisshawab

Nilai Anzac Day bagi seorang Muslim


December 16, 2007

Tepatnya hari ini, teman2 Australia memperingati Anzac Day. Tadi sy lewat di di North Terrace. Jalan2 ditutup karena ada memorial service dan march. Untung Pultney street masih boleh, sehingga sy masih sempat ke Uni untuk ngutak ngatik simulasi dan input data2 ke program. Hari libur hari harus masuk office karena simulasinya 9 jam, dan 11 jam lebih dan hasilnya bisa diupdate besok.

Ada sedikit penasaran apa sih itu Anzac Day? Nasionalisme teman2 Aussie nampaknya sangat tinggi dan mereka sangat bangga dan menghargai para pendahulunya dan veterannya.

Pertama kali Australia dan New Zealand berpartisipasi dalam PD I sebagai volunteer membantu Inggris memerangi Turki pada tahun 1914. Australia baru berusia 13 tahun sebagai prtektorat Inggris ketika. Mereka mendarat pada tanggal 25 April 1914 di semenanjung Gallipoli untuk membuka akses bagi tentara Inggris menembus blokade menuju Laut Hitam. Tujuan pendaratan ini untuk menduduki Ibukota Istambul dan memerangi Turki sebagai sekutu Jerman.

Tentara Anzac mendapatkan perlawanan yang luar bisa dari tentara Turki. Upaya untuk menembus blokade berlangsung selama 8 bulan dan gagal total. Bahkan tentara Anzac harus dievakuasi setelah mengalami kekekalahan dan menelan korban 8000 aussie dan 2700 kiwi tewas.

Bagi Ummat Islam, pertempuran di Gallipoli adalah bukti kekuatan kekhalifahan Islam Ottoman. Mereka dibawah pimpinan jenderal Mustafa Kemal, berhasil menahan serangan tentara Sekutu (Inggris, Perancis dan Anzac) di Krithia, Gully Ravine. Mereka bahkan mengalahkan tentara sekutu di Sari Bair dan Gallipoli.

Kemenangan2 tersebut, membuat pasukan Ottoman makin percaya diri. Mereka mengalahkan tentara Inggris di Mesopotamia (Irak sekarang) dan memaksa mereka menyerah di Kut Al Amara pd tahun 1916. Tentara Ottoman dan penduduk Palestina mengusir Tentara Inggris dari Semenanjung Sinai dan dari Mesir dengan tujuan memnguasai Terusan Suez.

Sebagai hasil kekalahan tersebut, PM Inggris Winston Curchill mundur bersama Lord John Fischer. John Monash (namanya menjadi Uni di Melbourne) sebagai jenderal Aussie mendapat wewenang yang lebih besar di pasukan sekutu.

satu2nya kesuksesan Inggris dalam perang di Turki adalah keberhasilan mereka mengevakuasi sebagian tentaranya yang gagal dalam Operasi Agustus, dan dilanda badai hebat selama 3 hari, blizzard , dan banjir besar setelahnya.

Peringatan Anzac Day seharusnya bukan saja menjadi kebanggaan teman2 Aussie yang sejarahnya ketika itu sangat percaya akan superioritas Commonwealth dan seketika setelah pertempuran di Gallipoli, kepercayaan itu jatuh dan mengakibatkan Aussie dan Kiwi menemukan jati dirinya sebagai bangsa yang “lain” dari Inggris, tetapi Anzac Day adalah saat2 kita ummat Islam memperingati kejayaan kekhalifahan Islam berpusat di Turki sebagai negara besar ketika itu.

Yang perlu dicatat bahwa Inggris dan sekutunya tetap berupaya memenangkan PD I dan PD II setelahnya. Dengan semakin memudarnya kekhalifahan Ottoman Turki dan naiknya gologan nasionalis sekuler dipimpin Mustafa Kemal, dunia Islam kehilangan kekuatannya. Terlebih pendudukan Inggris banyak terjadi di daerah protektorat Ottoman seperti Palestina yang kemudian diberikan kepada Yahudi dan Imigran2 membentuk Israel pada tahun 1948, lahirnya Arab Saudi, Irak, dan negara2 kecil di Teluk Persia, serta Mesir .

pasca PD II adalah munculnya nasionalisme2 Arab, termasuk juga nasionalisme Indonesia dan Malaysia (mungkin). Negara2 mayoritas muslim ini banyak yang bersengketa, seperti Iran-Irak, Konfrontasi Indonesia-Malaysia (1964-1966), dll. Konflik negara2 Islam di timur tengah semakin memudarkan dunia Islam setelah mereka kalah dalam Perang 6 hari melawan Israel. Sejak itu, krisis di Timur Tengah tak pernah berhenti hingga saat ini.

Kegaduhan dan krisis yang terjadi di dunia Islam masa kini adalah rentetan panjang dari hilangnya kekhalifahan Islam Ottoman di Turki dan makin kuatnya nasionalisme negara Islam serta banyak penguasa yang zalim di negara2 mayoritas Islam.

Mungkin sudah saatnya, ummat Islam memperkuat ukhuwah dan mengorganisir diri membentuk semacam “Islamic commonwealth” atau semacam Uni Islam (mirip2 Uni Eropa). Dengan makin suburnya ghirah islamiyah dan demokratisasi di negara2 Islam, maka kesempatan emas Ummat Islam kuat dan bersatu harus dapat dimanfaat menuju kebangkitan ummat Islam di abad 15 Hijriah..

Tata Kota Baghdad Nan Rapi


Iseng-iseng tadi sy mencoba melihat kota Baghdad dari Google Earth, subhanallah ternyata sangat mirip dengan Adelaide yang memakai sistem Grid. Sangat teratur dengan grid yang ukurannya sama.

Jika Adelaide, tata kotanya didesain oleh Col. William Light—surveyor militer Inggris kelahiran Malaysia (yang theodolitnya dijadikan patung di taman sekitar CBD) pada sekitar tahun 1836, maka Baghdad didirikan pada tanggal 30 July 762 M oleh Khalifah Al Mansyur (Abbasiyah) . Bahkan lebih tua lagi sejak sebelum masuknya Islam.

Desain awal Kota Baghdad menyerupai Lingkaran dengan diameter awal 2 km.Di tengah lingkaran terdapat Masjid Besar dan Markas militer kekaisaran Abbasiyah. Ternyata sistem lingkaran merupakan penjabaran kebudayaan Kota-kota Persia Kuno sebagaimana Kota Firouzabad. Khalifah Abbasiyah menugaskan Naubakh (bekas penganut Zoroaster) dan Mashallah (dari Iran).

Persamaan antara Baghada dan Adelaide adalah pusat kota berada ditengah. Yakni adelaide memiliki CBD yang dikelilingi taman (dari South Terrace, North Terrace, East hingga West Terrace, sedangkan Baghdad memiliki pusat kota berupa lingkaran berupa Monumen Syuhada berdampingan dengan taman-taman.

Persamaan yang lain adalah Adelaide memilki Torrens River dan Baghada memiliki Tigris River

Sedangkan perbedaannya adalah jalan-jalan di Adelaide didesain mengikuti arah mata angin. Ini membuat kita bisa mengukur dengan benar arah utara dan selatan berdasarkan arah jalan-jalan utama. Persis dengan arah mata angin. Mungkin karena desainer adalah surveyor. Kalau kita ingin mengarah kiblat sangat gampang, tinggal mencari arah sejajar jalan North Terrace (misalnya) dengan menggeser beberapa derajat.

Perbedaan lainnya: Baghdad sangat padat dengan penduduk sekitar 7 juta sedangkan Adelaide 1,2 juta jiwa.

Baghdad dijuluki House of Wisdom karena pernah menjadi pusat Ilmu pengetahuan dan melahirkan banyak cendikiawan dan ilmuwan yang diakui oleh dunia. Kebudayaan dan peradaban di Baghdad kemudian banyak ditularkan ke Eropa hingga melahirkan Renaiissance di abad pertengahan.

HOWEVER, Baghdad sekarang tingggal sejarah dan makin porak poranda oleh pendudukan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Hancur oleh fitnah dan pertikaian antara Syiah dan Sunni yang selama 1500 tahun dulunya hidup damai. Baghdad kota seribu satu malam.

Meminjam lirik lagu Bengawan Solo..(ciptaan Gesang)…”oh Kota Baghdad..riwayatmu dulu…”

Wallahu A’lam Bisshawab

John Howard Memang Gentle



Belum genap 24 jam setelah Pemilu 24 November 2007 dan Australian Election Committee (KPU-nya Australia) belum mengeluarkan pernyataan resmi, malam ini John Howard mengadakan jumpa pers dan menyatakan kekalahannya dan menelpon langsung Kevin Rudd saingannya dan memberinya ucapan selamat atas terpilihnya menjadi PM Australia yang baru. Partai ALP pimpinan Kevin Rudd memenangkan 84 kursi di Parlemen sedangkan Partai Liberal-nya Howard hanya 58 kursi. Howard menyatakan dia lah yang bertanggung jawab atas kekalahan partai-nya yang sebagian orang menganggapnya cukup sukses di bidang ekonomi.

Peristiwa ini sangat menarik, karena di sinilah indahnya demokrasi dan contoh dari politik yang adiluhung dan kenegarawanan.

Masih teringat, kalau kita melihat kampung kita di tanah air, bagaimana seorang Presiden Megawati Sukarno Puteri ketika itu tidak mengakui kekalahannya dalam Pemilu tahun 2004 dan masih sakit hati hingga tidak menghadiri pelantikan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden yang baru. Di beberapa pilkada,hasilnya sudah diumumkan, pihak yang kalah menggelar demo dan menuntutnya hingga ke pengadilan, bahkan bermasalah hingga berlarut2. Misalnya saja Pilkada Banten, dan Pilkada Maluku Utara, serta beberapa pilkada kabupaten.. Di daerah Sulsel contohnya, daerah asal saya, bagaimana calon gubernur dukungan Golkar dan PKS kalah dangan selisih kurang 1% dari lawannya yang didukung PAN, PDK, PDI-P, dan PDS. Bahkan ketika quick count-nya PT LSI Denny JA sudah melaporkan hasil, KPU memberi pengumuman resmi dan Wapres JK sudah memberi selamat kepada pemenang, si calon gubernur yang kalah masih ngotot dan melakukan tuntutan hingga ke MA dengan membayar pengacara ternama dari Jakarta. Mungkin dari sekian pilkada, hanya Pak Adang dalam pilkada DKI Jakarta kemarin yang mengakui kekalahannya kepada Bang Kumis Foke.

Kembali ke Australia, persaingan antara ALP-nya Kevin Rudd dan Liberal-nya John Howard sangat ketat. Hingga dari polling ke polling selisih diantara keduanya selalu berubah dan sangat tipis, yakni kurang dari 5%. Yang saya selalu ingat adalah debat antara Kevin Rudd dan John Howard di akhir Oktober lalu. Kevin Rudd tampil sangat taktis dengan isu Global Climate Change dan Protokol Kyoto, pendidikan dengan broadband hingga daerah terpencil, serta penghapusan Workplace Agreement. Sementara Howard dengan semboyan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan tampil dengan isu-isu pendidikan, ekonomi. Perdebatan mereka sudah menyangkut masalah-masalah riil dan rencana yang sudah bisa dianalisa oleh masyarakat. Ini berbeda dengan debat calon presiden di tanah air yang mana para capres hanya berbicara normatif, ideal, dan mungkin abstrak.

Persaingan ketat antara kedua partai ini juga bisa dilihat dari iklan-iklan yang ada di SBS, ABC, Channel 7, nine dan Channel Ten. Partai Liberal- Howard banyak memberikan peringatan kepada masyarakat akan kemunduran ekonomi dan macetnya bisnis-industri jika pemerintahan dipegang oleh ALP yang notabene banyak dipenuhi oleh orang2 Union (serikat pekerja). Sementara Rudd muncul dengan pesan-pesan “new leadership for the future”. Mungkin jika dibandingkan iklan capres di tanah air, iklan kampanye di Australia “agak kasar”, karena isinya “to the point”, dan sangat-sangat jelas, dan agak menyerang kandidat lawan.

Ada satu hal yang sangat saya respek dari pernyataan John Howard malam ini adalah, ”saya bangga meninggalkan jabatan dimana kondisi negara ini jauh lebih baik dari ketika saya datang untuk menjabat”.

Ini mungkin satu hikmah yang bisa petik. Semoga.

Ber-Sosialisasi Lewat PubCrawl


Segregasi sosial atau sosial separatisme adalah issue yang patut kita cermati. Di Australia, secara sadar atau tidak sadar kita sebagai international student cenderung untuk memilih lingkungan pergaulan berdasarkan kedekatan kultural, geografi-rasial, atau mungkin juga kedekatan akan nationalis-etnis (daerah asal), atau barangkali berdasarkan kedekatan agama.

Komunitas mahasiswa terbentuk secara “natural” berdasarkan kedekatan-kedekatan tersebut di atas. Student dari Malaysia akan terasa ”nyambung” dan “akrab” jika bergaul dengan sesama Malay atau dari Indo, India, Cina, dan mungkin dari Timur Tengah. Mungkin juga student dari Indo juga cenderung lebih “merapat” jika ketemu sesama Indo atau dari Asia. Apalagi jika muslim ketemu dengan sesama muslim.

Tahun lalu di sebuah harian terbitan Melbourne, diindikasikan bahwa terjadi sebuah “jarak” antara mahasiswa internasional dengan mahasiswa aussie bahkan ada antara mahasiswa antar bangsa dengan masyarakat Aussie di sekitar. Ini mengakibatkan terjadi gap akan pemahaman budaya dan kebiasaan setempat, bahkan gap komunikasi.

Teman2 Aussie sebagai “tuan rumah” memiliki komunitas sebagai wahana untuk bersosialisasi. Ini ditandai dengan ajakan untuk hadir di “Morning Tea” setiap Jum’at pagi, atau Lunch bersama di halaman sekitar kampus. Satu hal yang teman2 Aussie selalu ajak pada setiap Jum’at sore hingga malam adalah “ngumpul dan ngobrol” di PUB. Budaya Aussie menurut sebagian orang salah satunya adalah “minum” (tentu yang beralkohol).

Bahkan ada ada acara “PUBCRAWL” yakni tour dari Pub ke Pub dimana mereka akan minum sepanjang jumlah Pub yang dikunjungi, kemudian mabuk sampai “crawling” (merangkak). Tentu banyak yang tidak sampai crawling, tapi paling tidak ini menjadi wahana ngumpul dan menjalin keakraban.

Dari seorang teman (kebetulan dia seorang muslim), kadang-kadang dia juga ikut “ngumpul”, namun tidak ikut2an minum. Teman ini hanya memesan coke atau lemonade. Menurutnya, students Aussie sangat respect akan sikap teman muslim tersebut. Walhasil, menurutnya keakraban mudah cair jika sedang berada di Pub, berbeda jika sedang berada di kampus yang sarat dengan kuliah dan assigment.

Mungkin ini menjadi dilema antara “memenuhi ajakan untuk bersosialisasi” namun wahananya adalah tempat yang “identik” (dalam persepsi kita) dengan minum beralkohol dan mabuk.

Beasiswa Mahasiswa Iran, Malaysia, Cina dan Indonesia


December 16, 2007

Saat-saat sekarang ini mungkin mahasiswa tengah sibuk menghadapi ujian atau menyelesaikan tugas menjelang berakhirnya semester ini. Malah sudah ada yang berfikir untuk mudik, kembali ke tanah air, atau pelesiran ke kota2 besar seperti Melbourne atau Sydney. Mungkin Juga ada yang tengah mencari2 lowongan kerja untuk pengisi waktu di kala liburan dan untuk menambah devisa keluarga.

Namun ada juga yang masih cemas menghadapi pembayaran uang kuliah (tuition fee) untuk tahun depan.

Seorang teman, dari Iran, dosen di Univ. Teheran berkeluh kesah tentang sulitnya mendapatkan beasiswa di Australia. Belum lagi persoalan student visanya. Semua biaya ditanggung sendiri termasuk bridging program untuk penelitian. Untung dia masih sempat menyelesaikan proposal risetnya di bidang teknik geologi.

ada juga teman dari India, juga dosen di salah satu universitas di Bombay (bukan artis Bollywood). Dia sibuk mencari part time job untuk membiayai Ph.D nya. Katanya, setelah selesai proposal riset, dia akan memulai karirnya sebagai tukang bersih2.

Terakhir, teman dari Cina, juga sibuk mencari part time job untuk membiayai master degree. Pusing juga dia, sambil mengatakan mahasiswa Cina hampir seluruhnya membiayai sendiri, alias tidak ada beasiswa. Dia pun sempat bertanya, kalau mahasiswa Indonesia, apa punya beasiswa? Berapa Jumlahnya?

Biasa saja masalah ini terjadi. Hanya saja ada beberapa hal2 menarik yang coba kita simak:

Pertama, kita, mahasiswa asal Indonesia (sebagian besar punya beasiswa), masih lebih beruntung dari mereka. Beasiswa kita masih lebih besar dari beasiswa mahasiswa Malaysia, misalnya. Itu pun ada kabar, beasiswa mahasiswa malaysia akan dikurangi.

Kedua, Jumlah mahasiswa asal Cina, India (termasuk Pakistan, Bangladesh, dan Srilangka), dan Malaysia, lebih dominan dari mahasiswa asal Indonesia untuk kasus di Adelaide Uni. Malah, beberapa teman Indonesia dikirain Malaysia.

Ketiga, ada relasi berbanding terbalik antara beasiswa dan jumlah mahasiswa asal. Artinya, mahasiswa yang dengan biaya sendiri jauh lebih besar dari mahasiswa yang memiliki beasiswa.

Keempat, motivasi belajar di luar negeri lebih tinggi bagi mahasiswa asal Cina, india, dan Malaysia, walaupun tanpa atau terbatasnya beasiswa.

Kelima, motivasi belajar di luar negeri bagi mahasiswa asal Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh ketersediaan beasiswa. Mungkin juga pengaruh dari Krisis ekonomi sebagai negara berkembang.

Nampaknya dari fenomena di atas, India, Cina dan Malaysia sangat pesat pembangunan sumberdaya manusianya. Terlihat dari factor motivasi dan terbatansnya beasiswa.

Teringat akan presiden Amerika Serikat George W Bush dalam sebuah pidato depan Kongres yang mengakui keunggulan SDM Cina dan India. Bukan rahasia lagi, kalau Microsoft banyak memiliki tenaga ahli dari India. Cina, jangan tanya lagi, di mana2 ada perkampungan CIna. Di Adelaide Uni saja, beberapa dosen dan professor, berasal dari Cina. Malaysia sangat unik, yang dikirim belajar lebih banyak undergraduate tapi untuk bidang2 khusus seperti Mining, perminyakan, kedokteran, Kimia, dan Mechanical. Mereka ada yang lanjut untuk Ph.D karena first awarded class.

Keunggulan SDM ternyata berbanding lurus dari tingkat pertumbuhan ekonomi. Contohnya India Malaysia dan Cina, yang tengah merayap menjadi negara maju.

Keberuntungan sebagian besar mahasiswa asal Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari bantuan Pemerintah Australia sebaiknya disyukuri. Kita masih bisa dengan tenang belajar, bahkan juga bekerja mencari tambahan buat tabungan (”Jangan Sampai Kuliah mengganggu Kerja”, kata seorang teman).

keberuntungan ini mengingatkan pasal 34 UUD 45: “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, equivalen dengan “mahasiswa asal negera (berkembang atau miskin) dipelihara oleh Pemerintah Federal Australia” (pasal dalam ADS/APS).

Indonesia masuk kategori negara miskin atau berkembang?? ini juga diperdebatkan….(ingat kata2 Indonesia “Tinggal Landas” ala Orde Baru).

Berandai aja, kapan mahasiswa Indonesia dikirim ke Australia dalam jumlah yang besar dan atas biaya sendiri atau paling tidak biaya pemerintah Indonesia.
(ada juga beasiswa dari bentuk loan (utang luar negeri)).

wallahu a’lam bissawab

Membicarakan Sutiyoso di Pultney Street


December 16, 2007

Di sebuah cafe di sekitar Pultney Street, sesama posgrad student ngumpul bareng. Biasalah, Friday Night adalah malam panjang, Once a week, kongkow2 dari jam 5 hingga 7 pm. tema pembicaraan sesuai ide yang muncul saat itu,

ringan2 dan mengalir natural aja. Tak dinyana, kasus Bang Yos (Gubernur DKI) yang 3 hari terakhir menjadi prime news di SBS, Channel 9, Channel 7, dan Channel 10, sempat disinggung juga oleh Matt (Aussie).

“That’s ridiculous”, katanya.

Matt mengerti mengapa pemerintah Indonesia memprotes keras perlakuan polisi NSW atas Bang Yos.

polisi yang masuk ke kamar hotel tanpa izin dan memakai master kunci kemudian memberikan surat untuk datang bersaksi di pengadilan atas kasus Balibo Five, melanggar aturan tentang privasi di Aussie. Daz mengiyakan pendapat Matt. Kalau apa yang dituduhkan bahwa polisi NSW masuk tanpa izin benar, memang sangat disayangkan.

Hanya saja, Matt bilang bahwa para demonstran yang ada di depan kedubes Australia di Jakarta pasti dibayar oleh orang-orang tertentu. Mungkin juga oleh Bang Yos.

“it might be right, Matt!”

Di Jakarta, demonstrasi banyak yang menggunakan massa bayaran. Mungkin, ada pula perusahaan yang khusus untuk penggalangan massa. Jadi jangan heran, jika ada demonstran tidak mengerti masalah apa yang mereka protes. Ikut aja. Yang penting, dapat makan dan uang!

Kembali ke soal Australia dan Indonesia. Matt sependapat bahwa Indonesia dan Australia harus bisa mengadakan kerja sama sebagai sesama tetangga terdekat. Apalagi, kata Matt, begitu banyak Australia memberi bantuan ke Indonesia. Dalam rangka kerja sama sister sity itulah, Bang Yos datang ke Sydney ketemu ama Morries Iemma (Gubernur NSW). Matt dan Daz baru tahu itu. Koq bukan ama Adelaide?

Adelaide udah punya sister sity ama Christchurch NZ, kota di Jepang, kota di Malaysia, dan di Inggris. Topik kali agak sensitif juga sih. Anyway, baru kali ini mendengar sendiri komentar teman Aussie mengenai issue Indonesia dan Australia.

Menjadi Tutor dan Asisten Lab di Negeri Orang

Selama hampir 2 bulan ini, ada kesempatan berharga menjadi asisten praktikum di Soil Mechanic Lab buat mahasiswa undergraduate, dan juga di bulan oktober, menjadi tutor selama 3 minggu untuk kelas geoteknik.

kesempatan ini sangat baik untuk mempelajari sistem mereka dan kalo ada yang bagus bisa menjadi “ole-ole” yang berharga.

Saya mencoba mengadakan perbandingan antara Lab Geotek di Universitas Hasanuddin dan Lab Geotek di sini, ada beberapa hal: Jumlah soil test untuk praktikum di Lab Unhas lebih banyak (jauh lebih banyak) daripada di sini. Kalo ga salah (maklum 10 tahun lalu), di Unhas, mahasiswa harus melaksanakan 13 soil test, termasuk field test (Sondir dan SPT, borehole). Juga ada test kompaksi proctor, AASTHO, CBR. Termasuk juga test Konsolidasi, direct shear test, confined test, permeabilitas test, shieve analysis, atterberg limit test, specific gravity test, dan lainnya. Kecuali untuk triaxial test, alatnya rusak waktu itu. praktikum dilaksanakan dalam 2 minggu berturut-turut, dan laporan praktikumnya dikumpul pada 1-2 bulan setelahnya, lengkap dengan prosedur, foto, dan grafik2. Pokoknya cukup tebal. dijilid, dan mirip2 skripsi.

Di University of Adelaide, praktikum ada 2 level. Untuk mahasiswa tahun kedua, mereka hanya melakukan shieve analysis, atterberg limit, dan kompaksi proctor. Untuk mahasiswa tahun ketiga, mereka hanya melakukan tes konsolidasi, triaxial test, direct shear, dan analisa seepage pada miniatur bendungan. praktikum dilakukan cuma 3 jam perminggu per soil test, dan laporan praktikum dikumpul satu minggu setelah praktikum dalam beberapa lembar grafik dan analisis. mengenai alat, hampir sama saja. kecuali Triaxial tets yang digital,seepage untuk dam, dan sondir yang mekanis dan computerized. Alat2 juga dipakai untuk penelitian dan melayani proyek2 di luar kampus. Di beberapa alat, dilengkapi dengan komputer untuk data processing dan internet-intranet connection. Termasuk juga ada SOP, dan tools untuk safety.

Yang menarik di sini, adalah mahasiswa sudah harus lulus pada matakuliah geotechnic II tahun lalu sebelum mengikuti pracktikum geotech II tahun ini. Begitupula untuk geotechnic III. selain itu, penentuan kelompok praktikum diacak dan biasanya terdiri dari 4-5 orang tiap kelompok. Setiap minggu, tiap kelompok hanya mengerjakan satu jenis soil test dan dibimbing oleh satu orang asisten lab. Report dibuat setelah praktikum dan dikumpul minggu depannya, terdiri dari data hasil, grafik analisis, dan penjelasan dikaitkan dengan masalah2 konstruksi di lapangan (bobot penilaiannya paling tinggi).

Kesimpulan saya, ada yang menjadi perbedaan mendasar adalah umumnya mahasiswa di tanah air dididik untuk bisa mengetahui, menghafal, dan menghitung. Mungkin bahasa kasarnya, kita dididik untuk menjadi kalkulator, makanya harus menghafal rumus, dan bisa menggunakannya. Akan tetapi di Aussie, mahasiswa diharapkan menjadi analisator. Praktikumnya hanya pada yang pokok-pokok saja, namun basic analisa yang terus diasah. Termasuk untuk bisa menilai dan mengkritisi sesuatu, dan mengambil kesimpulan yang berbeda dengan dosen.

Wallahu A'lam bisshawab

I Nakke Tonji

Assalamu alaikum, salam sejahtera bagi kita semua...

Membuat blog sebenarnya bukanlah hobi bagi saya. Hanya karena melihat trend yang berkembang, dan tidak mau disebut “GapTek”, maka saya dengan kerendahan hati dan was-was mencoba mem-vitual publish-kan ide-ide dan unek2 yang ada di otak yang katanya kalau disimpan bisa menjadi stroke trigger. Mudah-mudahan apa yang ada di blog ini bukanlah fitnah, dan kalaupun ada yang tersinggung, mudah2an dia tersungging atas permohonan maaf saya dari awal.

Ada baiknya saya menuliskan siapa saya. Meskipun beberapa kawan ada yang sudah mengenal, namun karena saya adalah orang biasa-biasa saja, wong cilik kata orang Jawa, maka ada baiknya saya menguraikan secara ringkas profil saya.

Nama saya Ardy, singkat saja. Ditambah nama bapak saya, jadi Ardy Arsyad. Saya lahir dari seorang PNS Dep. PU (sekarang udah retired) Muhammad Arsyad Kadiro, dan seorang ibu rumah tangga, Yusniar Yusuf, pada hari rabu, tanggal 7 Juli 1976 jam 7 malam (sy ga percaya keramat2 angka 7!) di Rumah Sakit Umum Dadi (sekarang RS. Jiwa Dadi–saya bukan orang gila ya..) di Ujung Pandang (sekarang kembali menjadi nama Makassar). Karena lahir di Makassar, maka saya termasuk orang Makassar. Namun orang tua saya sudah mixed antara Bugis dan Makassar. Saya adalah sulung dari 6 bersaudara.

Tahun 2003, ketika bekerja di Proyek GKN Manado, saya bertemu dengan seorang dokter muda (dr. Dian Andini) yang lagi coass di RS Kandou Malalayang yang sekarang alhamdulillah kemudian menjadi istri dan ibu dari dua putra saya : Alif Ardian Arsyad (1,5 thn), dan Muhammad Terzaghi Ramadhan (3 bln).

Masa kecil dihabiskan di Makassar, kerjanya cuma main dan main, kadang berkelahi, mulai main “Santo-Santo”, Cangke’, kelereng, layangan, Asing-asing dan “Enggo Jaga” (permainan favorit saya waktu itu). Indahnya masa kecil. Tahun 1982, belum genap 6 tahun, saya dimasukkan bapak saya ke SD Inpres Melayu I di bilangan Jalan Seram. Kemudian tahun 1988, karena NEM kurang 0.3 point untuk masuk ke SMP Neg. 6, akhirnya masuk ke SMP Negeri 5 di Jl. Sumba daerah pecinan. Di SMP tua yang pernah bernama SMP Liong Djie itu, saya merasakan nikmatnya belajar, hingga tak pernah berniat membolos. Mungkin gurunya, baik sekali dan memotivasi, terutama Pak Husen dan Ibu Daeng Baji (guru Matematika), Fisika, Biologi dan juga guru PMP pak Ramli Sami’un (beliau sdh saya anggap orang tua saya). Tak lupa pula dengan walikelas (pak Zainuddin) yang ngajarin berenang (hingga bisa) di Mattoanging.

Selepas SMP tahun 1991, saya memilih SMA Negeri 2 Makassar, meskipun SMA Negeri I juga bisa. Masuk dengan stambuk yang saya masih ingat karena nomornya unik stb: 133335, pengalaman belajar di SMA meskipun biasa-biasa saja, juga mengesankan terutama untuk bidang studi Fisika. Saya paling suka Fisika Mekanika, kalau Fisika Kuantum dan Elektrik, sangat susah untuk diimajinasikan jadi kurang suka. Guru-guru juga sangat memotivasi. Salam buat Pak Umar dan Pak Bakri (bukan Pak Umar Bakri-nya Iwan Fals). Pengalaman berorganisasi dimulai dari SMA, semasa menjadi Waka II KIR Hailastur Indus, dan anggota DEpt. perkaderan Rohis “Keramat”. kulminasi relijiusitas saya rasakan pada waktu itu. Kemudian mengalami up and down. Mudah2an masih ada puncak tersebut di masa mendatang. Tamat di tahun 1994, saya melanjutkan ke Teknik Sipil universitas Hasanuddin.

Menjadi mahasiswa bagi saya pribadi, jauh lebih indah dari masa-masa SMA. Ada banyak pengalaman sangat berguna. Salah satunya, pengalaman menjadi peserta seleksi mahasiswa teladan tingkat Fakultas Teknik, yang kriteria pemilihannya saya tidak mengerti. Syaratnya hanya IPK di atas 3.00. Untungnya, saya tidak lolos ke tingkat Universitas. saya merasa saya belum paripurna untuk dijadikan teladan, juga banyak yang lebih baik. Pengalaman yang lainnya adalah menjadi jurnalis mahasiswa. Hingga jalan-jalan mewancarai beberapa guru besar di ITB Bandung dan UI Jakarta. Termasuk mewawancari Professor Sahari Besari mengenai Proyek Desain Beton untuk dikonstruksi di bulan (Proyeknya NASA). Selaku pemimpin redaksi Majalah ilmiah teknik sipil “Reaksi” waktu itu, saya dan beberapa teman bekerja untuk menyelesaikannya sebagai edisi ke-4. Alhasil, tahun 1997 jaman krismon bergulir, edisi ke-4 kemudian baru dapat terbit di tahun 2000. Ada banyak kegiatan yang berkesan di kampus ketika itu, termasuk pelatihan perkaderan di tingkat senat, pelatihan jurnalistik, pelatihan motivator lingkungan dan pelatihan metodologi dasar karya ilmiah. Selain itu, juga kegiatan-kegiatan yang saya masih sering ingat adalah menjadi “bek kiri” dalam setiap pertandingan sepak bola dari tingkat himpunan, hingga antar Universitas. Momen penting ketika menjadi mahasiswa, ketika seluruh mahasiswa Unhas mengadakan long March sejauh 10 km dari Kampus Tamalanrea ke Monumen Mandala guna berdemonstrasi menuntut Suharto mundur. Ribuan mahasiswa berjas almamater merah memenuhi jalan disamping juga mahasiswa dari PT lain se-Makassar, menyuarakan aspirasi yang sangat bersejarah di bulan Mei 1998. Selain di kampus, saya juga sempat merasakan nikmatnya berorganisasi di Ikatan Remaja Muhammadiyah. Mungkin, ketika itu adalah masa idea-idea untuk diperjuangkan menjadi kenyataan. Karir organisasi saya mulai dari bawah sejak menjadi ketua pengurus di tingkat cabang di (IRM cab. Makassar), kemudian menjadi salah satu staf ketua di IRM Daerah Kota Makassar, hingga staf ketua di Pimpinan Wilayah IRM Sulawesi Selatan. Salah satu idea yang pernah saya dan teman2 coba adalah pembentukan KIR Pattingalloang dengan segala bentuk kegiatannya. Selama hampir 3 tahun, saya banyak bermalam di Asrama Masjid Ta’mirul Masajid, bergabung dengan teman-teman dalam banyak kegiatan.

Alhasil, kuliah saya molor menjadi 6 tahun 10 bulan. Meskipun dengan IPK yang bagus, dengan waktu kuliah banyak habis di organisasi, membuat saya untuk menebus keterlambatan ini dengan segera bekerja. Tak lama setelah wisuda di bulan September 2001, saya keterima untuk bergabung di PT Arkonin Jakarta sebagai Project Inspector pada proyek Basement dan pondasi Gedung Mall Karebosi Square (sekarang menjadi MTC). Pada tahun 2002, saya kemudian bergabung dengan proyek LSM International untuk pembangunan kembali daerah Tobelo Galela Maluku Utara Pasca Kerusuhan. Di sini saya bekerja sebagai Rehabilitation Engineer dengan proyek didanai oleh UNDP. Kondisi Tobelo dan Galela ketika saya banyak melakukan assessment untuk rahab Puskesmas, Pustu dan polindes, sangat memilukan dan menyadarkan akan pentingnya kedamaian. Selepas kontrak, saya tidak memperpanjang, dan memutuskan balik ke Makassar. Saya mencoba ikut tes di Bank Danamon. Dan hasilnya diterima sebagai back office dengan penempatan Bank Danamon di Ambon. Hari pertama masuk kerja dengan pakaian necis berdasi, membuat saya terpekur. Mungkin background ilmu saya tidak cocok. Hanya 4 bulan walaupun sudah terangkat sebagai pegawai, saya mundur dan memilih balik lagi ke ”lapangan”. Mungkin di sini hidup saya. Saya kemudian diterima untuk bekerja Structure Engineer pada Proyek fondasi dan struktur GKN Manad0 di bulan Juli 2003. Bekerja di proyek ini sangat mengesankan. Saya banyak belajar di sini. Karena prestasi yang baik, saya tetap bekerja hingga 2004, sesekali menangani proyek perencanaan Jembatan untuk beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Awal 2005, ketika Indonesia masih berada dalam duka nasional atas Tsunami Aceh, bos mengirim saya ke Palu, mengawasi pekerjaan fondasi Gedung Mall Tatura. Di Palu, saya dan istri yang juga sempat ikut, merasakan bagaimana dahsyatnya gempa dengan kekuatan 6.4 SR dan kepanikan masyarakat di subuh hari dengan adanya tsunami. Hanya 6 bulan di Palu, saya balik ke Makassar untuk mengawasi pekerjaan fondasi dan struktur Tower DPRD Sulsel. Pada saat yang sama, saya kembali untuk mengajar sebagai dosen muda di Unhas. Pekerjaan ini tidak pernah saya mimpikan, baru setelah mengikuti seleksai tes 2 hari (tes tulis dan tes mengajar-wawancara) yang dilaksanakan secara nasional (sistem baru ketika itu pasca terpilihnya rezim baru SBY-JK), akhirnya menjadi seorang dosen. Hanya 6 bulan mengajar, saya pun harus mengapply up-grade dari S1 ke S berikutnya. Maklum, mayoritas teman-teman dosen S-2 dan S-3. November, saya diberi rizki oleh Allah SWT untuk ber-sekolah kembali di Australia.

Ternyata cukup panjang juga cerita saya ya. Kadang-kadang menuliskan profil, kita sebaiknya menyertakan hobbi. saya senang memanfaatkan waktu luang dengan bermain Tenis. Kadang-kadang, juga bermain PC Game, khususnya Game Strategi. Mengenai musik, saya tidak terlalu fanatik dengan musik, hanya kalo mengetik laporan, atau nyante di kantor, saya memilih satu dari 3 CD yaitu Jazz After Hours-nya Nina Simon, Classic Jazz-nya Frank Sinatra (oldies banget lagu2 ini) dan Classic Music for Lazy time. Membaca buku juga menyenangkan jika kondisi memungkinkan. Buku-buku yang menarik adalah buku-buku tentang sejarah dan biografi orang terkenal, seperti Vietnam War, The Great Explorers: Their Triumphs and Tragedies, Balinese Prince, Inventions that Changed the Worlds, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu-nya Pramudya Ananta Tour, dan The Crusade. Tentang Film, beberapa film yang memberi inspirasi adalah Children of Heaven (saya nonton sampe 8 kali), dan Forest Gum. Salah satu hoby yang saya sudah tak pernah lagi dilakukan, namun selalu saya mimpikan adalah traveling ke pantai-pantai yang indah di daerah timur Indonesia. Saya masih ingat pulau kecil dengan pantainya yang putih bersih di depan Bere-Bere Pulau Morotai. Luar biasa indahnya. kemudian Pantai Luari di Galela, Pulau kecil di depan Tobelo, sebuah pantai di Ternate, dan Pantai Kalasei dan Malalayang di Manado. Semuanya mengesankan, terapalagi kalo kita bisa berenang dan ber-snorkling ria melihat terumbu-terumbu karang. Keindahan pulau-pulau di Kawasan Timur, saya pernah amati ketika kita melakukan perjalanan pesisir pantai menggunakan sampan, atau bermobil di pagi hari melihat jejeran pohon kelapa yang diterpa sinar matahari. Subhanallah.