Persoalan bahasa terkadang membuat kita bingung. Ini masih dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun persepsi kadang berbeda. Contohnya saja, kata membonceng. Ada orang menyangka bahwa kalau membonceng ketika bersepeda motor, itu berarti di depan memegang stir, dan yang dibonceng itu di belakang. Namun ada juga yang berasumsi bahwa yang membonceng itu berada di belakang, artinya mengikuti yang ada di depan.
Ini sebenarnya persoalan sepele, namun pernah tak pernah terluapakan walaupun sudah berlalu 11 tahun.
Tahun 1996, kami setelah lulusan PPD-B di Fort Rotterdam akan menjadi panitia pelaksana PPD B untuk angkatan berikutnya (semacam perkaderan mahasiswa selevel intermediat) untuk perkaderan Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Unhas. Bertempat di Benteng Somba Opu, yang cukup jauh dari kampus, mungkin sekitar 20 km dari kampus. Pelaksanaan kepanitiaan berjalan baik dan kami-kami bersemangat menjalankannya. Dengan lokasi yang cukup jauh, maka alat transportasi untuk lebih bisa mobile yang cocok adalah sepeda motor. Beruntunglah, beberapa teman ada yang memiliki motor, termasuk beberapa senior yang menjadi steering committee. Salah satunya dari steering committeeTeknik Elektro (saya lupa namanya). Walaupun motor tua, tapi tetap tokcer untuk dipakai membeli keperluaan logistik training. Apalagi bagi beberapa teman yang baru bisa mengendarai sepeda motor, ini tentu bersemangat dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Pada hari ketiga perkaderan, di suatu sore, saya dan seorang teman yang juga panitia dari Teknik Mesin (namanya masih saya ingat) akan membeli gula pasir. Maklumlah, kebutuhan gula pasir meningkat seiring intensitas minum kopi bagi para peserta, panitia, dan juga pengurus senat yang datang sangat tinggi. Apalagi materi diskusi berlangsung hingga jam 2 - 3 pagi. Maka dengan mengendarai motor tua, kami pun pergi dengan semangatnya. Sehabis mendapatkan gula sekilo, kami pun berencana balik ke lokasi. Namun karena masih sore, kami pun pergi ke tanjung dekat muara Sungai Jeneberang. Sekalian jalan-jalan. Menjelang maghrib, kami balik ke lokasi, motor saya kebut dan mendekati tempat parkir, tiba-tiba "gas nya melengket" dan motor tidak dapat dikendalikan. Maka motor itu pun seakan-akan melompat dan meluncur ke bawah rumah (baruga itu semacam rumah adat/rumah panggung), dan akhirnya terjadilah apa yang tidak pernah dibayangkan. Motor itu pun menabrak salah satu tiang rumah. Lampu depan hancur, saya yang memegang kemudi mengalami lecet. Sang teman yang dibelakang saya juga terjatuh. Untungnya tidak terlalu parah.
Peserta, panitia, dan beberapa steering datang melihat apa yang tertabrak. Materi yang ketika sedang dibahas oleh pelatihan, terhenti sebentar.
Sang pemilik motor juga sempat shock melihat apa yang terjadi. semuanya telah terjadi.
Beberapa kawan bertanya siapakah yang membonceng dan siapa yang dibonceng. Di sinilah penafsiran yang berbeda. Saya yang memang memegang stir tentu menjawab saya yang membonceng. Namun teman yang ikut berada dibelakang, juga menjawab dialah yang membonceng. Semua sama ngototnya. Untungnya si pemilik motor tidaklah mempermasalahkan kejadian ini dan motornya dapat diperbaiki. Saya masih merasa berhutang budi kepadanya.
Kembali kepada istilah membonceng dan dibonceng, yang manakah kira2 yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia. Kebetulan karena saya orang Makassar dan biasa mendengar istilah membonceng, tentu beranggapan yang membonceng itu adalah yang memegang stir. Namun kawan tersebut yang berasal dari Jawa, istilah membonceng itu bagi mereka yang mengikut.
Itulah sedikit cerita masa lalu yang selalu "tak terlupakan-- indah dan seru" ketika masih aktif di kampus Tamalanrea.

No comments:
Post a Comment