Di sebuah cafe di sekitar Pultney Street, sesama posgrad student ngumpul bareng. Biasalah, Friday Night adalah malam panjang, Once a week, kongkow2 dari jam 5 hingga 7 pm. tema pembicaraan sesuai ide yang muncul saat itu,
ringan2 dan mengalir natural aja. Tak dinyana, kasus Bang Yos (Gubernur DKI) yang 3 hari terakhir menjadi prime news di SBS, Channel 9, Channel 7, dan Channel 10, sempat disinggung juga oleh Matt (Aussie).
“That’s ridiculous”, katanya.
Matt mengerti mengapa pemerintah Indonesia memprotes keras perlakuan polisi NSW atas Bang Yos.
polisi yang masuk ke kamar hotel tanpa izin dan memakai master kunci kemudian memberikan surat untuk datang bersaksi di pengadilan atas kasus Balibo Five, melanggar aturan tentang privasi di Aussie. Daz mengiyakan pendapat Matt. Kalau apa yang dituduhkan bahwa polisi NSW masuk tanpa izin benar, memang sangat disayangkan.
Hanya saja, Matt bilang bahwa para demonstran yang ada di depan kedubes Australia di Jakarta pasti dibayar oleh orang-orang tertentu. Mungkin juga oleh Bang Yos.
“it might be right, Matt!”
Di Jakarta, demonstrasi banyak yang menggunakan massa bayaran. Mungkin, ada pula perusahaan yang khusus untuk penggalangan massa. Jadi jangan heran, jika ada demonstran tidak mengerti masalah apa yang mereka protes. Ikut aja. Yang penting, dapat makan dan uang!
Kembali ke soal Australia dan Indonesia. Matt sependapat bahwa Indonesia dan Australia harus bisa mengadakan kerja sama sebagai sesama tetangga terdekat. Apalagi, kata Matt, begitu banyak Australia memberi bantuan ke Indonesia. Dalam rangka kerja sama sister sity itulah, Bang Yos datang ke Sydney ketemu ama Morries Iemma (Gubernur NSW). Matt dan Daz baru tahu itu. Koq bukan ama Adelaide?
Adelaide udah punya sister sity ama Christchurch NZ, kota di Jepang, kota di Malaysia, dan di Inggris. Topik kali agak sensitif juga sih. Anyway, baru kali ini mendengar sendiri komentar teman Aussie mengenai issue Indonesia dan Australia.

No comments:
Post a Comment