Saat-saat sekarang ini mungkin mahasiswa tengah sibuk menghadapi ujian atau menyelesaikan tugas menjelang berakhirnya semester ini. Malah sudah ada yang berfikir untuk mudik, kembali ke tanah air, atau pelesiran ke kota2 besar seperti Melbourne atau Sydney. Mungkin Juga ada yang tengah mencari2 lowongan kerja untuk pengisi waktu di kala liburan dan untuk menambah devisa keluarga.
Namun ada juga yang masih cemas menghadapi pembayaran uang kuliah (tuition fee) untuk tahun depan.
Seorang teman, dari Iran, dosen di Univ. Teheran berkeluh kesah tentang sulitnya mendapatkan beasiswa di Australia. Belum lagi persoalan student visanya. Semua biaya ditanggung sendiri termasuk bridging program untuk penelitian. Untung dia masih sempat menyelesaikan proposal risetnya di bidang teknik geologi.
ada juga teman dari India, juga dosen di salah satu universitas di Bombay (bukan artis Bollywood). Dia sibuk mencari part time job untuk membiayai Ph.D nya. Katanya, setelah selesai proposal riset, dia akan memulai karirnya sebagai tukang bersih2.
Terakhir, teman dari Cina, juga sibuk mencari part time job untuk membiayai master degree. Pusing juga dia, sambil mengatakan mahasiswa Cina hampir seluruhnya membiayai sendiri, alias tidak ada beasiswa. Dia pun sempat bertanya, kalau mahasiswa Indonesia, apa punya beasiswa? Berapa Jumlahnya?
Biasa saja masalah ini terjadi. Hanya saja ada beberapa hal2 menarik yang coba kita simak:
Pertama, kita, mahasiswa asal Indonesia (sebagian besar punya beasiswa), masih lebih beruntung dari mereka. Beasiswa kita masih lebih besar dari beasiswa mahasiswa Malaysia, misalnya. Itu pun ada kabar, beasiswa mahasiswa malaysia akan dikurangi.
Kedua, Jumlah mahasiswa asal Cina, India (termasuk Pakistan, Bangladesh, dan Srilangka), dan Malaysia, lebih dominan dari mahasiswa asal Indonesia untuk kasus di Adelaide Uni. Malah, beberapa teman Indonesia dikirain Malaysia.
Ketiga, ada relasi berbanding terbalik antara beasiswa dan jumlah mahasiswa asal. Artinya, mahasiswa yang dengan biaya sendiri jauh lebih besar dari mahasiswa yang memiliki beasiswa.
Keempat, motivasi belajar di luar negeri lebih tinggi bagi mahasiswa asal Cina, india, dan Malaysia, walaupun tanpa atau terbatasnya beasiswa.
Kelima, motivasi belajar di luar negeri bagi mahasiswa asal Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh ketersediaan beasiswa. Mungkin juga pengaruh dari Krisis ekonomi sebagai negara berkembang.
Nampaknya dari fenomena di atas, India, Cina dan Malaysia sangat pesat pembangunan sumberdaya manusianya. Terlihat dari factor motivasi dan terbatansnya beasiswa.
Teringat akan presiden Amerika Serikat George W Bush dalam sebuah pidato depan Kongres yang mengakui keunggulan SDM Cina dan India. Bukan rahasia lagi, kalau Microsoft banyak memiliki tenaga ahli dari India. Cina, jangan tanya lagi, di mana2 ada perkampungan CIna. Di Adelaide Uni saja, beberapa dosen dan professor, berasal dari Cina. Malaysia sangat unik, yang dikirim belajar lebih banyak undergraduate tapi untuk bidang2 khusus seperti Mining, perminyakan, kedokteran, Kimia, dan Mechanical. Mereka ada yang lanjut untuk Ph.D karena first awarded class.
Keunggulan SDM ternyata berbanding lurus dari tingkat pertumbuhan ekonomi. Contohnya India Malaysia dan Cina, yang tengah merayap menjadi negara maju.
Keberuntungan sebagian besar mahasiswa asal Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari bantuan Pemerintah Australia sebaiknya disyukuri. Kita masih bisa dengan tenang belajar, bahkan juga bekerja mencari tambahan buat tabungan (”Jangan Sampai Kuliah mengganggu Kerja”, kata seorang teman).
keberuntungan ini mengingatkan pasal 34 UUD 45: “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, equivalen dengan “mahasiswa asal negera (berkembang atau miskin) dipelihara oleh Pemerintah Federal Australia” (pasal dalam ADS/APS).
Indonesia masuk kategori negara miskin atau berkembang?? ini juga diperdebatkan….(ingat kata2 Indonesia “Tinggal Landas” ala Orde Baru).
Berandai aja, kapan mahasiswa Indonesia dikirim ke Australia dalam jumlah yang besar dan atas biaya sendiri atau paling tidak biaya pemerintah Indonesia.
(ada juga beasiswa dari bentuk loan (utang luar negeri)).
wallahu a’lam bissawab

No comments:
Post a Comment