Academical and Professional Data

- Master Candidate in School of Civil, Environment, and Mining Engineering, The University of Adelaide
- Junior Lecturer in Department of Civil Engineering, University of Hasanuddin Makassar Indonesia

Association:
- American Society of Civil Engineer (ASCE)
- Geo-Institute
- Institute of Engineers Australia

Research Interest:
- Soil variability
- Probabilistic analysis in geotechnical engineering
- seismic risk analysis and earthquake
- geoenvironment
- site investigations
- pile foundation

Teaching (in University of Hasanuddin):
- Calculus (I)
- Advanced Engineering Mathematic (II)
- Material Mechanic (II)

Tutorial (The University of Adelaide):
- Geotechnical Engineering Design III

Laboratory assistant (The University of Adelaide):
- Geotechnical Practicum II
- Geotecnical Practicum III

Work Experiences:

Karebosi Shopping Centre (MTC Karebosi)
Location : Makassar, South of Sulawesi, Indonesia
From 2001 to 2002
Position : Project Inspector
Company: PT. Arkonin Jakarta
- supervising the constructing of retaining walls
- supervising pumping tests and dewatering
- supervising excavating for 3 levels of basements
- supervising piling for foundations

Community Recovery Program (CRP) in North Maluku UNDP-IMC
Location : Tobelo and Galela, North Maluku, IndonesiaFrom March to Oct 2002
Position : Engineering Officer
Company : IMC Indonesia
- Assessing several public health buildings
- Planning and designing the rehabilitation programs for the buildings
- Supervising the process of rehabilitation

Project of Gedung Keuangan Negara--GKN (State Finance Building)
Location : Manado, North of Sulawesi, Indonesia
From 2003 to 2004
Position : Field Structural and geotechnical Engineer
Company : PT. Yodya Karya (persero)
- supervising bored piling
- supervising the additional SPT and boring of site investigation
- supervising the constructing of the 6 levels of structure
- controlling of the quality of the concretes

Design of Bridges construction Package III
Location : Several Regencies in South of Sulawesi, Indonesia
From November to December 2003
Position : Structure Engineer
- designing of the foundations of the bridges
- analysing the cost of the bridges

Project of the Tatura Mall
Location : Palu, Central of Sulawesi, Indonesia
From January 2005 to June 2005
Position : Field Structural Engineer
Company : PT. Yodya Karya (persero)
- supervising the constructing of raft foundation
- supervising the first level of structure
- supervising the excavation for semi basement construction
- controlling the quality of concretes

Project of the Tower of Provincial Representatives (DPRD)
Location : Makassar, South of Sulawesi, Indonesia
From June 2005 to November 2005
Position : Field Structural Engineer
Company : PT. Yodya Karya (persero)
- supervising the work of driven piling
- supervising the 11 levels of structure
- controlling the quality of concretes

International Conferences:
- 7th Yound Geotechnical Professionals Conference, Adelaide, 2006
- 10th Australia New Zealand Conference on Geomechanic, Brisbane, 2007
- Seminar of Deep Foundations, Excavations and Retaining Walls in South Australia, Adelaide, 2007

Monday, December 17, 2007

Beasiswa Mahasiswa Iran, Malaysia, Cina dan Indonesia


December 16, 2007

Saat-saat sekarang ini mungkin mahasiswa tengah sibuk menghadapi ujian atau menyelesaikan tugas menjelang berakhirnya semester ini. Malah sudah ada yang berfikir untuk mudik, kembali ke tanah air, atau pelesiran ke kota2 besar seperti Melbourne atau Sydney. Mungkin Juga ada yang tengah mencari2 lowongan kerja untuk pengisi waktu di kala liburan dan untuk menambah devisa keluarga.

Namun ada juga yang masih cemas menghadapi pembayaran uang kuliah (tuition fee) untuk tahun depan.

Seorang teman, dari Iran, dosen di Univ. Teheran berkeluh kesah tentang sulitnya mendapatkan beasiswa di Australia. Belum lagi persoalan student visanya. Semua biaya ditanggung sendiri termasuk bridging program untuk penelitian. Untung dia masih sempat menyelesaikan proposal risetnya di bidang teknik geologi.

ada juga teman dari India, juga dosen di salah satu universitas di Bombay (bukan artis Bollywood). Dia sibuk mencari part time job untuk membiayai Ph.D nya. Katanya, setelah selesai proposal riset, dia akan memulai karirnya sebagai tukang bersih2.

Terakhir, teman dari Cina, juga sibuk mencari part time job untuk membiayai master degree. Pusing juga dia, sambil mengatakan mahasiswa Cina hampir seluruhnya membiayai sendiri, alias tidak ada beasiswa. Dia pun sempat bertanya, kalau mahasiswa Indonesia, apa punya beasiswa? Berapa Jumlahnya?

Biasa saja masalah ini terjadi. Hanya saja ada beberapa hal2 menarik yang coba kita simak:

Pertama, kita, mahasiswa asal Indonesia (sebagian besar punya beasiswa), masih lebih beruntung dari mereka. Beasiswa kita masih lebih besar dari beasiswa mahasiswa Malaysia, misalnya. Itu pun ada kabar, beasiswa mahasiswa malaysia akan dikurangi.

Kedua, Jumlah mahasiswa asal Cina, India (termasuk Pakistan, Bangladesh, dan Srilangka), dan Malaysia, lebih dominan dari mahasiswa asal Indonesia untuk kasus di Adelaide Uni. Malah, beberapa teman Indonesia dikirain Malaysia.

Ketiga, ada relasi berbanding terbalik antara beasiswa dan jumlah mahasiswa asal. Artinya, mahasiswa yang dengan biaya sendiri jauh lebih besar dari mahasiswa yang memiliki beasiswa.

Keempat, motivasi belajar di luar negeri lebih tinggi bagi mahasiswa asal Cina, india, dan Malaysia, walaupun tanpa atau terbatasnya beasiswa.

Kelima, motivasi belajar di luar negeri bagi mahasiswa asal Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh ketersediaan beasiswa. Mungkin juga pengaruh dari Krisis ekonomi sebagai negara berkembang.

Nampaknya dari fenomena di atas, India, Cina dan Malaysia sangat pesat pembangunan sumberdaya manusianya. Terlihat dari factor motivasi dan terbatansnya beasiswa.

Teringat akan presiden Amerika Serikat George W Bush dalam sebuah pidato depan Kongres yang mengakui keunggulan SDM Cina dan India. Bukan rahasia lagi, kalau Microsoft banyak memiliki tenaga ahli dari India. Cina, jangan tanya lagi, di mana2 ada perkampungan CIna. Di Adelaide Uni saja, beberapa dosen dan professor, berasal dari Cina. Malaysia sangat unik, yang dikirim belajar lebih banyak undergraduate tapi untuk bidang2 khusus seperti Mining, perminyakan, kedokteran, Kimia, dan Mechanical. Mereka ada yang lanjut untuk Ph.D karena first awarded class.

Keunggulan SDM ternyata berbanding lurus dari tingkat pertumbuhan ekonomi. Contohnya India Malaysia dan Cina, yang tengah merayap menjadi negara maju.

Keberuntungan sebagian besar mahasiswa asal Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari bantuan Pemerintah Australia sebaiknya disyukuri. Kita masih bisa dengan tenang belajar, bahkan juga bekerja mencari tambahan buat tabungan (”Jangan Sampai Kuliah mengganggu Kerja”, kata seorang teman).

keberuntungan ini mengingatkan pasal 34 UUD 45: “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, equivalen dengan “mahasiswa asal negera (berkembang atau miskin) dipelihara oleh Pemerintah Federal Australia” (pasal dalam ADS/APS).

Indonesia masuk kategori negara miskin atau berkembang?? ini juga diperdebatkan….(ingat kata2 Indonesia “Tinggal Landas” ala Orde Baru).

Berandai aja, kapan mahasiswa Indonesia dikirim ke Australia dalam jumlah yang besar dan atas biaya sendiri atau paling tidak biaya pemerintah Indonesia.
(ada juga beasiswa dari bentuk loan (utang luar negeri)).

wallahu a’lam bissawab

No comments: