Belum genap 24 jam setelah Pemilu 24 November 2007 dan Australian Election Committee (KPU-nya Australia) belum mengeluarkan pernyataan resmi, malam ini John Howard mengadakan jumpa pers dan menyatakan kekalahannya dan menelpon langsung Kevin Rudd saingannya dan memberinya ucapan selamat atas terpilihnya menjadi PM Australia yang baru. Partai ALP pimpinan Kevin Rudd memenangkan 84 kursi di Parlemen sedangkan Partai Liberal-nya Howard hanya 58 kursi. Howard menyatakan dia lah yang bertanggung jawab atas kekalahan partai-nya yang sebagian orang menganggapnya cukup sukses di bidang ekonomi.
Peristiwa ini sangat menarik, karena di sinilah indahnya demokrasi dan contoh dari politik yang adiluhung dan kenegarawanan.
Masih teringat, kalau kita melihat kampung kita di tanah air, bagaimana seorang Presiden Megawati Sukarno Puteri ketika itu tidak mengakui kekalahannya dalam Pemilu tahun 2004 dan masih sakit hati hingga tidak menghadiri pelantikan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden yang baru. Di beberapa pilkada,hasilnya sudah diumumkan, pihak yang kalah menggelar demo dan menuntutnya hingga ke pengadilan, bahkan bermasalah hingga berlarut2. Misalnya saja Pilkada Banten, dan Pilkada Maluku Utara, serta beberapa pilkada kabupaten.. Di daerah Sulsel contohnya, daerah asal saya, bagaimana calon gubernur dukungan Golkar dan PKS kalah dangan selisih kurang 1% dari lawannya yang didukung PAN, PDK, PDI-P, dan PDS. Bahkan ketika quick count-nya PT LSI Denny JA sudah melaporkan hasil, KPU memberi pengumuman resmi dan Wapres JK sudah memberi selamat kepada pemenang, si calon gubernur yang kalah masih ngotot dan melakukan tuntutan hingga ke MA dengan membayar pengacara ternama dari Jakarta. Mungkin dari sekian pilkada, hanya Pak Adang dalam pilkada DKI Jakarta kemarin yang mengakui kekalahannya kepada Bang Kumis Foke.
Kembali ke Australia, persaingan antara ALP-nya Kevin Rudd dan Liberal-nya John Howard sangat ketat. Hingga dari polling ke polling selisih diantara keduanya selalu berubah dan sangat tipis, yakni kurang dari 5%. Yang saya selalu ingat adalah debat antara Kevin Rudd dan John Howard di akhir Oktober lalu. Kevin Rudd tampil sangat taktis dengan isu Global Climate Change dan Protokol Kyoto, pendidikan dengan broadband hingga daerah terpencil, serta penghapusan Workplace Agreement. Sementara Howard dengan semboyan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan tampil dengan isu-isu pendidikan, ekonomi. Perdebatan mereka sudah menyangkut masalah-masalah riil dan rencana yang sudah bisa dianalisa oleh masyarakat. Ini berbeda dengan debat calon presiden di tanah air yang mana para capres hanya berbicara normatif, ideal, dan mungkin abstrak.
Persaingan ketat antara kedua partai ini juga bisa dilihat dari iklan-iklan yang ada di SBS, ABC, Channel 7, nine dan Channel Ten. Partai Liberal- Howard banyak memberikan peringatan kepada masyarakat akan kemunduran ekonomi dan macetnya bisnis-industri jika pemerintahan dipegang oleh ALP yang notabene banyak dipenuhi oleh orang2 Union (serikat pekerja). Sementara Rudd muncul dengan pesan-pesan “new leadership for the future”. Mungkin jika dibandingkan iklan capres di tanah air, iklan kampanye di Australia “agak kasar”, karena isinya “to the point”, dan sangat-sangat jelas, dan agak menyerang kandidat lawan.
Ada satu hal yang sangat saya respek dari pernyataan John Howard malam ini adalah, ”saya bangga meninggalkan jabatan dimana kondisi negara ini jauh lebih baik dari ketika saya datang untuk menjabat”.
Ini mungkin satu hikmah yang bisa petik. Semoga.

No comments:
Post a Comment