
Peradaban manusia dalam sejarahnya telah berupaya melakukan berbagai cara mengamati fenomena alam dan sekaligus untuk menaklukan alam. Dimulai dari 6000 tahun yang lalu, manusia di Babilonia dan Mesir mulai mengamati berbagai peristiwa alam yang unik dengan memakai matematika sebagai numerical method. Manusia di Yunani juga tidak tinggal diam. Mereka tertarik dengan natural philosophi untuk mengamati alam. Yang laris manis ketika itu adalah ilmu-ilmu mengenai fenomena alam di angkasa (astronomi), dunia hewan (zoology) dan juga mengenai manusia itu sendiri (anatomi). Masih belum bisa menaklukan alam, 2500 tahun yang lalu, matematikawan di India kemudian memperkenalkan angka nol dan sistem desimal yang memudahkan untuk menghitung. Semetara itu di Cina, manusia menemukan kompas. Sebuah starting point untuk para eksplorer ke penjuru dunia yang gelap yang ketika itu samudera Atlantik yang dihuni banyak mistik. Eksplorasi mengakibatkan pengetahuan geografi semakin meluas dan makin akurat. Perkembangan Islam di abad 7- 11 juga membawa "angin segar" bagi usaha penaklukan alam. Manusia sudah mulai memakai ilmu kimia untuk meramu bahan alam, membuat lensa optik yang nantinya melahirkan teleskop mengamati angkasa, dan mengembangkan hampir semua sains modern termasuk matematika, fisika, kedokteran dan sosiologi. Penaklukan alam kemudian berlanjut di Eropa. Dari warisan dunia Islam pasca penaklukan Andalusia, dan perang Salib, Eropa kemudian menjadi barometer perkembangan sains modern. Revolusi sains diawali oleh Isaac Newton melalui Philosophiae Naturalis Principia Mathematica in 1687 yang kemudian melahirkan revolusi industri, dan ditutup oleh Albert Einstein pada 1900-an bersama Max Planc dan Niels Bohr mengembangkan fisika kuantum yang nantinya menginspirasi revolusi informasi dan telekomunikasi. Usaha manusia belum pernah berhenti sekalipun di abad ke-20, melalui mereka menemukan listrik, mobil, pesawat udara, rekayasa genetik, energi nuklir, dan internet.
Namun manusia tidak akan pernah menaklukan alam. Seberapa jauh lompatan peradaban melalui teori, eksperimen, dan penemuan, alam raya ini masih saja asing dari jangkauan manusia. Masih banyak fenomena alam yang belum diobservasi secara detail dan mendalam. Sebagai contoh, fenomena alam berupa gempa. Manusia hanya mampu mengobservasi daerah-daerah potensi gempa dari data seismik, dan pengukuran geologi menggunakan GPS akan sesar aktif, yang terus bergeser setiap tahun . Namun kapan gempa terjadi manusia belum bisa memastikan.
Pada dasarnya alam raya ini menyimpan banyak ketidakpastian. Hal ini dikarenakan observasi dan data sangat terbatas. Manusia mengembangkan teori untuk mengestimasi, namun masih banyak mengandung limitasi pemberlakuannya. Dalam limitasi inilah, konsep tawakkal secara sadar atau tidak sadar diterapkan.
Dalam konsep engineering desain, kesempurnaan sebuah desain sebenarnya tergantung seberapa lengkap data yang diperoleh baik melalui eksplorasi dan uji laboratorium. Dari poin ini, engineer bisa membuat model, dan secara optimistik mendesain konstruksi yang diinginkan. Hanya saja, desain tersebut tidak akan pernah sempurna. Selain data yang digunakan tidaklah lengkap jika dibandingkan dengan fakta nyata di lapangan, juga eksperimen di laboratorium memiliki potensi kesalahan baik dari alat maupun metodenya. Olehnya itu, engineer harus selalu bisa membuat estimasi. Kehandalan estimasi ini sangat ditentukan oleh eksperiens. Semakin banyak pengalaman, semakin matang estimasi yang dibuat.
Namun ini belum cukup, estimasi harus selalu dilengkap dengan "Faktor keamanan (safety factor)". Engineer menyerahkan estimasi desain-nya kepada Tuhan berupa "safety factor". Disadari, alam raya ini memiliki hal-hal yang tidak dijangkau oleh estimasi sang engineer. Safety factor merupakan aplikasi dari tawakkal kepada Allah SWT. Mungkin saja estimasi yang dibuat sudah dapat diandalkan karena data-data perhitungan dan analisanya sudah sedemikian lengkap. Namun fenomena alam menyimpan banyak ketidakpastian, dan engineer bersiap untuk dengan bertawakkal, dengan memakai safety factor.
Dari asal katanya, tawakkal bisa berarti mewakilkan, atau menyerahkan urusan kepada yang mewakilkan. Seberapa besar masalah yang diserahkan tergantung oleh seberapa besar usaha yang dilakukan. Pada dasarnya, seluruh urusan di kehidupan ini adalah tanggung jawab manusia sebagai khalifah. Artinya manusia dibekali oleh Allah SWT seluruh potensi ruh dan akal untuk bisa mengendalikan alam raya ini. Selama masih bisa dilakukan oleh manusia, maka itulah usaha yang harus dilakukan. Kuantitas dan kualitas dari usaha akan dapat menurunkan potensi ketidakpastian hasil, sebagaimana diilustrasikan dari gambar di bawah. Ketidakpastian itu akan turun seiring bertambahnya usaha. Derajat optimistik juga akan bertambah seiring dengan peningkatan usaha. Namun kepastian hasil tidak akan dapat mutlak diperoleh. Di sinilah tawakkal dilakukan. Diserahkan kepada sang pemilik fenomena alam, Allah SWT. Dalam konsep ini, engineer melakukan segala upaya termasuk investigasi, eksplorasi, analisis data, pengujian, pemodelan, dan pengetesan model adalah merupakan bentuk usaha. Derajat kepercayaan akan kehandalan desain akan bertambah seiring dengan data dan pengujian yang dilakukan. Namun, engineer tidak akan percaya 100% dengan apa yang didapatkan. Safety factor kemudian diambil. Semuanya sudah dilakukan, dan engineerpun bertawakkal. Besaran safety factor tergantung dengan usaha dan degree of confidence. Semakin optimistik sebuah desain, maka safety factor yang dikenakan tidaklah tinggi.
Wallahu a'lam bisshawab
Acknoloedgement buat Pak Tamam, Mas Khamdi, Mas Zaini, dan Pak Rizal atas diskusi mengenai Tawakkal pada 22 Desember 2007.

2 comments:
Salam blogger!
Selamat datang di komunitas blogger makassar Angingmammiri.org :) Account anda sudah kami approve. Ditunggu perkenalannya yah di forum Tudang Sipulung, dan jangan lupa dong pasang banner angingmammiri-nya yah :)
Post a Comment